Games PUBG Haram, Kenapa?

0
172

Games PUBG Haram, Teror pembantaian 50 jemaah salat Jumat di Selandia Baru, di inspirasi dari game daring PlayerUnknown’s Battle Grounds (PUBG). MUI juga sekarang tengah memperhitungkan untuk mengharamkan game tersebut.

Berikut sekelumit bukti tentang game battle royale yang begitu popular itu.

Wawasan video game menjadi penyebab kekerasan sudah jadi sisi dari debat sosial penduduk dunia lama. Hilary Clinton di tahun 2005, saat jadi senator, sempat mengatakan jika “bermain video game kekerasan untuk remaja sama dengan merokok tembakau untuk kanker paru-paru”.

Beberapa serangan bersenjata yang berlangsung di Amerika Serikat pula dipercaya dikarenakan oleh aktor yang terkena kekerasan waktu bermain video game. Presiden Trump, contohnya, mempersalahkan video game atas peristiwa penembakan di Marjory Stoneman Douglas High School di Florida, yang menewaskan 17 siswa.

Permainan role playing game, dimana pemain memakai senjata serta membunuh untuk bertahan hidup, seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds atau PUBG, jadi sorotan dalam sekian waktu paling akhir.

Di India, game PUBG telah dilarang pada awal Maret. Larangan ini diperuntukkan untuk menahan kekerasan dikerjakan oleh anak-anak yang bermain game itu. “Sebab permainan ini, pendidikan anak-anak serta remaja dipengaruhi. Game ini pula memengaruhi tingkah laku, tata krama, perkataan serta perubahan anak-anak,” demikian pengakuan dalam surat perintah polisi negara sisi Gujarat, tertanggal 6 Maret.

Indonesia serta Malaysia juga berwacana untuk melarang permainan PUBG. Dikutip dari Detik News, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah memperhitungkan fatwa haram untuk game PUBG. Kemkominfo juga menyikapi pertimbangan itu. “MUI instansi berdiri sendiri. Jika memang (PUBG) dirasa mengakibatkan kerusakan, dikaji dahulu, serta silakan diserahkan ke Kominfo. Kami siap menindaklanjuti keinginan pemblokirannya,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.

Video game bukan pemicu penting kekerasan

Sarah Mayr, psikolog Jerman dengan konsentrasi Human Factors serta molecular psychology, dalam tulisannya Vom Gamer zum Täter – Erhöhen Videospiele die Gewaltbereitschaft unter Jugendlichen? (Dari Gamer ke Aktor Kriminil – Apa video game tingkatkan tindak kekerasan pada anak muda?) menanyakan apa jadikan game menjadi permasalahan serta pemicu tindak kekerasan dapat dibetulkan dari pemikiran ilmiah?

Untuk menunjukkan klaim itu, jadi dibutuhkan riset ilmiah. Ilmuwan AS Whitney DeCamp serta Christopher J. Ferguson sudah lakukan penelitian pada 9000 anak-anak kelas 8 serta 11 yang datang dari beberapa susunan penduduk di AS untuk menguji aspek yang mengakibatkan seseorang anak jadi kasar.

Beberapa periset merekam intensitas mereka bermain video game brutal, kualitas jalinan dengan orangtua, kekerasan dalam keluarga serta info demografik seperti gender, tingkat ekonomi keluarga serta etnisitas.

Riset DeCamp serta Ferguson menyimpulkan jika kekerasan dalam video game bukan adalah pemicu penting kekerasan remaja serta, jika keluarga serta lingkungan sosial ialah aspek yang lebih punya pengaruh dalam membuat seorang berkepribadian kasar serta brutal.

Mencuplik riset Adachi serta Willoughby yang berjudul “The Link Between Playing Video Games and Positive Youth Outcomes: Child Development Perspectives”, Mayr tuliskan, beberapa studi bahkan juga tunjukkan jika video game pula mempunyai bagian baik: ada game yang melatih pemecahan permasalahan serta ada juga yang menggalakkan kerja sama diantara remaja dari beberapa grup sosial.

Sesudah satu dekade lebih beberapa ilmuwan menyibukkan diri pada penelitian dampak negatif video game, Mayr memiliki pendapat jika mungkin sekarang waktunya, mereka fokus penelitian pada apa serta bagaimana video game bisa berperan positif pada perubahan anak-anak. (di kurator dari detik,com)