Anak Sekarang Mana Tahu Handphone Jaman dulu

0
27
handphone jadul
hp jadul

handphone jadul

Handphone Jaman dulu,  genggaman tangan, dapat masuk saku, serta harga dapat dijangkau. Telephone selular (Hp) pandai dipunyai sebagian besar orang di Indonesia saat ini. Melalui benda setebal itu, orang dapat menelepon, kirim pesan, serta terhubung internet. Jumlahnya manfaat membuat orang ketagihan memakainya. Di angkutan umum, di ruangan nantikan, bahkan juga di toilet.

 

Walau sebenarnya, saat pertama keluar, harga hp selangit, 13-15 juta rupiah saat kurs dollar Amerika masih 1386 rupiah. Hp pertama di Indonesia itu ada tahun 1986 jadi buah kerja sama Telkom dengan PT Rajasa Hazanah Perkasa (PT RHP). Tehnologinya memakai Nordic Mobile Technology (NMT) dengan piranti merk Ericsson.

Telkom menyiapkan layanan komunikasinya, sesaat PT RHP menyiapkan perangkatnya. Saat pemakai ingin memperoleh handphone, mereka tidak beli piranti telephone serta nomer provider dengan terpisah, tetapi satu telephone cuma satu nomer serta tidak dapat ditukar. “Dulu di jual sekaligus juga. Jadi orang beli hp, nomornya diinjeksi ke perangkatnya. Berlainan dengan saat ini yang beli piranti serta providernya terpisah,” kata Garuda Sugardo, kepala Analisa Telkom Indonesia saat tehnologi telephone umum mulai dibuat, pada Historia.

Lahir di masa pemerintahan Soeharto, pembangunan handphone tidak terlepas dari rutinitas Orde Baru: mengikutkan perusahaan punya keluarga dalam usaha negara. PT RHP adalah perusahaan punya satu diantara anak Soeharto. George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan menyebutkan 32,5% saham PT RHP dipunyai kakak-beradik, Sigit Harjojudanto serta Tommy Soeharto. Mereka jadi hanya satu penyuplai service handphone saat itu plus tehnologinya masih baru, selangitlah harga nya.

 

“Telkom tidak kerjakan sendiri. Dahulu sistemnya buat hasil. Jadi yang memutuskan harga bukan negara atau Telkom tetapi swasta yang pegang piranti,” kata Koesmarihati, direktur Telkomsel 1995-1998, pada Historia.
NMT adalah tehnologi keluaran pertama yang memakai frekwensi 450 MHz. Memiliki bentuk masih besar hingga tidak mungkin masuk saku, tetapi harus ditenteng atau di taruh di mobil. Komunikasi yang ditawarkan masih hanya telephone lokal di seputar Jakarta serta Jawa Barat. NMT belum dapat untuk kirim pesan digital.


Bentuk hp NMT.
Pada 1991, Telkom kembali bekerja bersama dengan perusahaan swasta untuk keluarkan handphone dengan tehnologi lebih baru, Advanced Mobile Phone Sistem (AMPS). Skema transmisi AMPS masih analog seperti NMT, tetapi sinyalnya telah digital serta frekuensinya jauh tambah tinggi, yaitu 800-900 MHz hingga semakin minim masalah. AMPS juga dikenal jadi tehnologi seluler generasi pertama (1G).

 

Manfaat AMPS hampir sama dengan NMT, akan tetapi perangkatnya lebih kecil, sekira 40cm. Piranti yang digunakan tidak Ericsson seperti masa NMT, tetapi Motorolla. Bila dibanding dengan hp zaman saat ini, ukurannya tambah lebih besar. Karena sangat besarnya, Koesmarihati sudah sempat bercanda jika beberapa wanita Hongkong senang dengan ukuran hp AMPS sebab dapat untuk memukul penjahat dalam tempat umum. “Telepon seluler yang AMPS itu besar sekali, sebesar sepatu,” kata Koesmarihati sekalian terkekeh.

 

Untuk wujudkan tehnologi ini, Garuda Sugardo dalam Telkomsel in First Masa menyebutkan, Telkom merajut kerja sama dengan pihak swasta. Ada tiga perusahaan yang menggenggam lisensi untuk keluarkan hp AMPS: PT Elektrindo Nusantara (EN), melayani daerah Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, serta Sulawesi Selatan; PT Centralindo Panca Sakti (CPS), mengatasi daerah Jawa Tengah serta Jawa Timur; serta PT Telekomindo Sempurna Bakti, melayani Sumatera Selatan, Bali, serta Kalimantan.

Telkom duduk jadi tubuh pelaksana, sesaat pihak swasta jadi penyuplai produk hp AMPS. Dari kerja sama ini Telkom mendapatkan jatah buat hasil sekitar 25-30% dari keseluruhan keuntungan. Sesaat EN, perusahaan punya Bambang Trihatmodjo, mendapatkan 70% dari keuntungan usaha ini.

“Harga AMPS dapat sampai 15-18 juta di saat itu. Orang biasa tidak dapat beli, cuma bos-bos serta menteri saja yang punyai. Banyaknya hanya terbatas,” kata Garuda.